19.oo
– 21.00
Malam
dingin. Hujan, sekali ini aku minta tolong. Bisikan padanya bahwa aku sangat
mengharapkannya bahwa ia juga menyayangiku. Antarkan langkahnya kesini agar
mawar putih ini menjadi payung baginya nanti.
19.00
Akhirnya,
aku tiba di kafe. Bersama sahabat terbaikku, seorang gadis cantik. Kami memilih
tempat di pojok ruangan, membuka laptop, dan memesan menu yang dapat dijangkau
isi dompetku. Aku memesan secangkir kopi Robusta, sedangkan sahabatku sendiri,
satu menu makanan berat, dan secangkir minuman dingin. Sahabatku membuka laptop,
dan semenit kemudian, dia sudah bergulat dalam kesibukannya. Aku menatap kearah
pintu, dalam sebuah dilema tak bernama.
Sejujurnya,
aku takkan berada disini, di kafe ini, malam ini, jika saja aku tak menanti kehadiran
seseorang, atau kalau mau bicara lebih jauh lagi, menanti jawaban seseorang.
Jawaban akan sebuah perihal bernama perasaaan.
Pertanyaan
tersebut kuajukan pada seseorang seminggu yang lalu, seminggu sebelum hari ini.
Kuajukan pada seseorang yang ternyata secara sadar atau tidak sadar, aku
menyayanginya.
Hari itu, sebelum bertanya,
kukatakan dengan susah payah, aku menyayanginya. Ia tampak terkejut dengan
pernyataanku. Aku memakluminya. Aku sendiri pun kaget karena aku dapat
mengungkapkannya. Selanjutnya, baru ku tanyakan apakah dia mencintaiku, ia
justru tidak menjawab, dan aku juga tak mau menuntut jawaban pada saat itu.
Hanya kukatakan saja bahwa hari senin depan,hari ini, aku akan menunggunya di
kafe tempat kami bertemu untuk pertama kali, dari pukul tujuh malam hingga
sembilan malam. Bila ia datang, berarti ia juga menyayangiku. Bila tidak, ya...
tidak. Ku ucapkan sekali lagi bahwa aku
betul-betul mencintainya dan sangat berharap dirinya pun merasakan hal yang
sama. Ia mematung saat aku beranjak. Diam tanpa sebuah ucapan.
Lalu
tibalah hari ini, senin malam ini. Malam menanti sebuah jawaban.
19.30
Secangkir
kopi Robusta telah tiba di hadapanku. Aku menyeruputnya sedikit demi sedikit.
Sahabat ku sendiri tengah asik melahap makanannya. Sebenarnya, ia tak ku ajak.
Namun, ia memaksa ikut.
“Setidaknya,
kehadiranku bisa menjadi penghibur bila ia tak datang. Ha..ha..ha..” begitu
katanya sambil bercanda. Aku hanya bisa tersenyum sinis meski aku tahu, ia tak
berniat menyinggungku.
Sekali,
sahabatku menawarkan makanannya tetapi aku menggeleng. Selanjutnya, ia kembali
pada kesibukannya. Tapi, sambil berucap, “Masih ada satu setengah jam lagi.
Tenanglah...”
Aku
tak mengiyakan dan tak juga membantah. “Kau percaya keajaiban?,” tanyanya lagi.
Aku mengangkat bahuku. Entahlah
“Aku
percaya untuk itu, percayalah!” ia meyakinkanku.
Kadang
aku berpikir, apa yang telah kulakukan? Akankah sia-sia aku menunggu? Sia-sia.
Karena, entah mengapa, aku begitu pesimis ia akan datang. Mengusir pikiran akan
hal terpahit tersebut, aku mencoba membayangkan ia akan hadir setengah jam lagi
dengan pakaian berwarna putih-sedikit pink, berhenti di ambang pintu sambil
melihat-lihat sekitar, dan akhirnya menemukan keberadaanku. Ia tersenyum dan
aku pun tersenyum. Mungkin aku berguling-guling kegirangan. Ia akan
menghampiriku dan menyatakan bahwa ternyata ia juga mencintaiku.
Aku
tersenyum.
Masih
tersenyum. Sampai sahabatku, menepuk pundakku.
“Kenapa
kau tersenyum-senyum sendiri? Seperti orang bodoh saja!”
Aku
memandanginya seraya terus menyunggingkan senyumku. Ia menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“Aneh!”
19.45
Sudah empat puluh lima menit aku duduk menunggu.
Sedangkan, di luar kafe, rerintikan hujan mulai turun. Aku curiga ini akan
berubah lebih. Ah, biarlah. Wajar, ini sedang musimnya. Hujan bisa turun kapan
saja, kan ? Aku tak berpikir apa-apa. Mungkin, malam ini memang jadwalnya turun
hujan.
Sahabatku
masih asik dengan dunianya. Biasanya, aku akan berlaku jahil. Namun, kali ini,
aku tidak berhasrat sama sekali. Yang ada dalam otakku saat ini adalah
berjuntai-juntai pertanyaan. Apakah ia menyayangiku? Apakah sebenarnya ia
menyayangiku namun tidak dapat hadir di malam ini? Apakah ia sedang bimbang
memutuskan akan datang atau tidak, atau bahkan, apakah ia lupa bahwa aku, saat
ini, sangat menanti kehadirannya, menanti sebuah jawaban indah darinya.
Aku
galau. Hawa dingin akibat rintik hujan menyelimuti tubuhku.
Aku
semangkin galau.
20.00
Saju
jam sudah terlewat. Masih satu jam lagi, aku bisa berharap. Tetapi, seakan-akan
mimpi buruk sudah di depan mataku. Huff. Kukeluarkan sesuatu dari dalam tasku.
Sahabatku, yang sedari tadi melirik kepadaku, terkejut.
“Hei,
kau membawa bunga?”
Aku
tidak menjawab. Kupandangi saja setangkai mawar putih yang tidak kubeli tadi
sore. Sahabataku kembali berkomentar.
“Ck
ck ck. Romantis sekali. Untukku?”
Kali
ini, aku tertawa. Kujawab saja,
“Untukmu
nanti, kuberi bunga bangkai.”
Ia
cemberut dan aku pun semangkin tertawa.
“Ha ha
ha. Maaf, besok kubelikan kau es krim. Jangan cemberut lagi, ah!”
Kali ini
wajar murumnya berubah berseri-seri.
“Benar,
ya!”
Aku
mengangguk.
Lalu, ia
kembali pada kesibukannya dan aku kembali pada penantianku.
20.15
“Ingatkah
kau sebuah pementasan teater yang dulu kita saksikan bersama-sama ? Tentang
seseorang yang menunggu kekasihnya hingga ia menjadi patung karena masih setia
menunggu?” tanya sahabatku.
“Ya,
“ Anggukku sambil mengingatnya lagi.
“Patung
itu seperti kau di malam ini!”
“Kalau
itu terjadi, tak apa.”
“Jangan,
nanti tidak ada yang membelikan aku es krim, dong!!”
Aku
tersenyum. Tertawa juga meski di dalam hati. Dari yang ia katakan, aku jadi
berhayal bahwa aku akan menantinya hingga menjadi patung. Ah, mungkin terlalu
bodoh. Namun, itulah yang aku pikirkan. Walaupun ia tak datang, aku akan selalu
menunggu hingga menjadikan diriku sebongkah patung seperti halnya pementasan
teater yang ku saksikan bersama sahabatku ini.
20.30
Gawat!
Kusadari kalau aku masih dalam penantian. Satu setengah jam telah ku lewati.
Hujan? Masih sama rintiknya. Mungkin... lebih deras. Galau dan dilema semakin
keras menghantam dadaku. Mencoba mengusirnya, ku keluarkan sebuah buku kecil
dan pena lalu kutulis sesuatu.
Malam.
Dingin. Hujan.
Sekali
ini aku minta tolong.
Bisikan
padanya bahwa aku sangat mengharapkannya.
Sangat
mengharapkan bahwa ia juga menyayangiku.
Anatarkan
langkahnya kesini.
Agar
mawar putih ini menjadi payung baginya nanti.
Hujan
turun semakin deras. Dan aku masih setia menunggu dengan kegalauan yang
ternyata tak sedikit pun bisa ku hapus. Malah, kini teringat olehku awal
perjumpaan kami. Ya, tadi sudah ku kisahkan. Klise sekali seperti di
sinetron-sinetron. Aku dan beberapa sahabatku sedang terbahak-bahak atas
lelucon bodoh kami yang tak ada habisnya. Dia sedang duduk di pojok (tempat
yang kini kutempati), mengerjakan sesuatu yang serius dan merasa terganggu oleh
tawa kami. Ia kemudian menghampiri kami dan berkata dengan judesnya.
“Eh,
kafe ini punya bokap loe ya?!”
Kami
pun kaget. Ia kembali ketempatnya dan kami masih tenggelam dalam keterkejutan.
Namun, entah mengapa, perihal tadi membuatku menjadi tertarik ada sosoknya dan
kuperhatikan dirinya dalam-dalam. Akhirnya, kuberanikan diri untuk
menghampirinya, berbasa-basi dengan kata maaf kepadanya. Ia mengangguk.
Kemudian, aku membayar pesanan miliknya. Ia pun berterima kasih kepadaku. Kali
ini, aku yang mengangguk. Lalu, kuatanyakan nama dan nomor handphone-nya. Tak
di sangka, ia mau memberikannya. Sejak saat itulah, aku dan dia menjadi sebuah
cerita yang mungkin, baginya merupakan sebuah pertemanan. Dan, selalu saja
dalam pertemuan kami, atau sekedar mendengarkan suaranya lewat handphone, sudah
membuatku jatuh cinta kepadanya.
Dan
malam ini, kafe ini akan menjadi saksi bisu tentang kisahku selanjutnya. Entah
terhenti atau berlanjut.
20.45
Tersisa
15 menit lagi. Aku tak mengerti harus bagaimana lagi. Sahabatku sudah mematikan
laptopnya dan mencoba menenangkanku. Aku hanya bisa mengangguk walau sebenarnya
aku tak bisa. Terbayang saat-saat bersama dirinya, sosok yang kunanti.
Ekspresinya, waktu kami bersama, dan lainnya. Tidakkah diriku berada di dalam
hatinya meskipun hanya dalam porsi kecil? Tidakkah kedekatan itu mengenang di
dirinya, yang akan mengantarkannya melangkah ketempatku berada?
Aku
tak mengerti. Hanya bisa menanti dan menanti.
20.50
Kulihat
keambang pintu, dan ... hai! Itulah dia, seperti yang kubayangkan. Ia memakai
kaos putih dengan corak pink. Bedanya hanya, ia membawa sebuah payung berwarna
merah jambu. Aku, yang terbawa kebahagian, berlari menghampirinya dan reflek
memeluknya dengan erat. Kuucapkan terima kasih kepadanya ia mengangguk dengan
senyum manis di wajahnya. Ku pandangi ia lama, seakan tak percaya. Tak
kuhiraukan puluhan pasang mata yang tertuju pada kami.
“Aku
sayang kamu,” ujarnya.
“Aku
juga sayang kamu,” balasku.
Ia
kembali tersenyum. Begitu pula diriku. Lalu, ku kecup keningnya. Betul-betul
indah. Betul-betul bahagia. Betul-betul...
Kadang,
batas antara imajinasi dan kenyataan berbeda sangat tipis. Kadang, imajinasi
seakan-akan berwujud kenyataan, meraibkan kenyataan yang sebenar-benarnya.
Itulah yang ku alami barusan. Akal sehatku tak lagi bisa menerima yang nyata.
Bergantilah imajinasi yang menguasai. Beruntung, sahabatku menepuk pundakku
dengan kekhawatiran yang tersimpan di kedua matanya.
Nyatanya,
ia belum datang juga.
Nyatanya,
aku masih menunggu.
Inilah
kenyataannya.
20.55
Hujan
semakin deras dan aku tengah di landa putus asa yang teramat sangat.
20.57
Kugenggam
mawar putih begitu erat hingga tak ku sadari durinya melukai jemariku.
20.58
Aku
melempar pandangan pada seluruh penjuru kafe beserta isinya. Dinding, meja,
kursi, lampu dan berbagai macam lagi. Nampaknya, setelah menjadi saksi bisu
bagi hadirnya rasa cinta dalam diriku, mereka juga menjadi saksi tentang
pahitnya rasa itu.
20.59
Hujan
bukan hanya di luar tetapi juga di dalam diri. Luka bukan hanya di tangan namun
juga di dalam hati. Beberapa detik lagi...
Aku
menutup wajah ku dengan kedua tangan, berharap dengan sisa pengharapan. Bila
kubuka, ia telah di hadapan. Dan ...
21.00
Aku
melangkah ke ambang pintu. Sahabatku tak mencegahku. Ia mengerti. Mawar putih
kugenggam di tangan.
Selanjutnya
aku keluar menerobos rinai hujan.
Setitik air mata hanyut dalam hujan. Sebuah perasaan pun kini hanyut
dalam hujan. Aku... hanyut dalam hujan.
Seseorang
menepuk pundakku dan meneduhkanku dengan payung putihnya. Sahabatku, ternyata
menyusulku.
Ia
tersenyum. Matanya menyeratkan “jangan bersedih, aku berada di sampingmu.
“Hampir terlupa olehku akan arti seorang sahabat,yang hatinya seputih payung di
atas kepalaku, yang seputih mawar putih di tanganku. Aku mengangguk. Kami
berjalan meninggalkan kafe yang kali ini menjadi sebuah saksi bisu hilangnya
sebuah pengharapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar