Selasa, 06 Januari 2015

Cerita Pendek

19.oo – 21.00
Malam dingin. Hujan, sekali ini aku minta tolong. Bisikan padanya bahwa aku sangat mengharapkannya bahwa ia juga menyayangiku. Antarkan langkahnya kesini agar mawar putih ini menjadi payung baginya nanti.

19.00
         Akhirnya, aku tiba di kafe. Bersama sahabat terbaikku, seorang gadis cantik. Kami memilih tempat di pojok ruangan, membuka laptop, dan memesan menu yang dapat dijangkau isi dompetku. Aku memesan secangkir kopi Robusta, sedangkan sahabatku sendiri, satu menu makanan berat, dan secangkir minuman dingin. Sahabatku membuka laptop, dan semenit kemudian, dia sudah bergulat dalam kesibukannya. Aku menatap kearah pintu, dalam sebuah dilema tak bernama.
         Sejujurnya, aku takkan berada disini, di kafe ini, malam ini, jika saja aku tak menanti kehadiran seseorang, atau kalau mau bicara lebih jauh lagi, menanti jawaban seseorang. Jawaban akan sebuah perihal bernama perasaaan.
         Pertanyaan tersebut kuajukan pada seseorang seminggu yang lalu, seminggu sebelum hari ini. Kuajukan pada seseorang yang ternyata secara sadar atau tidak sadar, aku menyayanginya.
Hari itu, sebelum bertanya, kukatakan dengan susah payah, aku menyayanginya. Ia tampak terkejut dengan pernyataanku. Aku memakluminya. Aku sendiri pun kaget karena aku dapat mengungkapkannya. Selanjutnya, baru ku tanyakan apakah dia mencintaiku, ia justru tidak menjawab, dan aku juga tak mau menuntut jawaban pada saat itu. Hanya kukatakan saja bahwa hari senin depan,hari ini, aku akan menunggunya di kafe tempat kami bertemu untuk pertama kali, dari pukul tujuh malam hingga sembilan malam. Bila ia datang, berarti ia juga menyayangiku. Bila tidak, ya... tidak. Ku ucapkan  sekali lagi bahwa aku betul-betul mencintainya dan sangat berharap dirinya pun merasakan hal yang sama. Ia mematung saat aku beranjak. Diam tanpa sebuah ucapan.
         Lalu tibalah hari ini, senin malam ini. Malam menanti sebuah jawaban.

19.30
         Secangkir kopi Robusta telah tiba di hadapanku. Aku menyeruputnya sedikit demi sedikit. Sahabat ku sendiri tengah asik melahap makanannya. Sebenarnya, ia tak ku ajak. Namun, ia memaksa ikut.
         “Setidaknya, kehadiranku bisa menjadi penghibur bila ia tak datang. Ha..ha..ha..” begitu katanya sambil bercanda. Aku hanya bisa tersenyum sinis meski aku tahu, ia tak berniat menyinggungku.
         Sekali, sahabatku menawarkan makanannya tetapi aku menggeleng. Selanjutnya, ia kembali pada kesibukannya. Tapi, sambil berucap, “Masih ada satu setengah jam lagi. Tenanglah...”
         Aku tak mengiyakan dan tak juga membantah. “Kau percaya keajaiban?,” tanyanya lagi. Aku mengangkat bahuku. Entahlah
         “Aku percaya untuk itu, percayalah!” ia meyakinkanku.
         Kadang aku berpikir, apa yang telah kulakukan? Akankah sia-sia aku menunggu? Sia-sia. Karena, entah mengapa, aku begitu pesimis ia akan datang. Mengusir pikiran akan hal terpahit tersebut, aku mencoba membayangkan ia akan hadir setengah jam lagi dengan pakaian berwarna putih-sedikit pink, berhenti di ambang pintu sambil melihat-lihat sekitar, dan akhirnya menemukan keberadaanku. Ia tersenyum dan aku pun tersenyum. Mungkin aku berguling-guling kegirangan. Ia akan menghampiriku dan menyatakan bahwa ternyata ia juga mencintaiku.
         Aku tersenyum.
         Masih tersenyum. Sampai sahabatku, menepuk pundakku.
         “Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri? Seperti orang bodoh saja!”
         Aku memandanginya seraya terus menyunggingkan senyumku. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
         “Aneh!”

19.45
         Sudah  empat puluh lima menit aku duduk menunggu. Sedangkan, di luar kafe, rerintikan hujan mulai turun. Aku curiga ini akan berubah lebih. Ah, biarlah. Wajar, ini sedang musimnya. Hujan bisa turun kapan saja, kan ? Aku tak berpikir apa-apa. Mungkin, malam ini memang jadwalnya turun hujan.
         Sahabatku masih asik dengan dunianya. Biasanya, aku akan berlaku jahil. Namun, kali ini, aku tidak berhasrat sama sekali. Yang ada dalam otakku saat ini adalah berjuntai-juntai pertanyaan. Apakah ia menyayangiku? Apakah sebenarnya ia menyayangiku namun tidak dapat hadir di malam ini? Apakah ia sedang bimbang memutuskan akan datang atau tidak, atau bahkan, apakah ia lupa bahwa aku, saat ini, sangat menanti kehadirannya, menanti sebuah jawaban indah darinya.
         Aku galau. Hawa dingin akibat rintik hujan menyelimuti tubuhku.
         Aku semangkin galau.

20.00
         Saju jam sudah terlewat. Masih satu jam lagi, aku bisa berharap. Tetapi, seakan-akan mimpi buruk sudah di depan mataku. Huff. Kukeluarkan sesuatu dari dalam tasku. Sahabatku, yang sedari tadi melirik kepadaku, terkejut.
         “Hei, kau membawa bunga?”
         Aku tidak menjawab. Kupandangi saja setangkai mawar putih yang tidak kubeli tadi sore. Sahabataku kembali berkomentar.
         “Ck ck ck. Romantis sekali. Untukku?”
         Kali ini, aku tertawa. Kujawab saja,
         “Untukmu nanti, kuberi bunga bangkai.”
Ia cemberut dan aku pun semangkin tertawa.
“Ha ha ha. Maaf, besok kubelikan kau es krim. Jangan cemberut lagi, ah!”
Kali ini wajar murumnya berubah berseri-seri.
“Benar, ya!”
Aku mengangguk.
Lalu, ia kembali pada kesibukannya dan aku kembali pada penantianku.

20.15
         “Ingatkah kau sebuah pementasan teater yang dulu kita saksikan bersama-sama ? Tentang seseorang yang menunggu kekasihnya hingga ia menjadi patung karena masih setia menunggu?” tanya sahabatku.
         “Ya, “ Anggukku sambil mengingatnya lagi.
         “Patung itu seperti kau di malam ini!”
         “Kalau itu terjadi, tak apa.”
         “Jangan, nanti tidak ada yang membelikan aku es krim, dong!!”
         Aku tersenyum. Tertawa juga meski di dalam hati. Dari yang ia katakan, aku jadi berhayal bahwa aku akan menantinya hingga menjadi patung. Ah, mungkin terlalu bodoh. Namun, itulah yang aku pikirkan. Walaupun ia tak datang, aku akan selalu menunggu hingga menjadikan diriku sebongkah patung seperti halnya pementasan teater yang ku saksikan bersama sahabatku ini.

20.30
         Gawat! Kusadari kalau aku masih dalam penantian. Satu setengah jam telah ku lewati. Hujan? Masih sama rintiknya. Mungkin... lebih deras. Galau dan dilema semakin keras menghantam dadaku. Mencoba mengusirnya, ku keluarkan sebuah buku kecil dan pena lalu kutulis sesuatu.
         Malam. Dingin. Hujan.
         Sekali ini aku minta tolong.
         Bisikan padanya bahwa aku sangat mengharapkannya.
         Sangat mengharapkan bahwa ia juga menyayangiku.
         Anatarkan langkahnya kesini.
         Agar mawar putih ini menjadi payung baginya nanti.
         Hujan turun semakin deras. Dan aku masih setia menunggu dengan kegalauan yang ternyata tak sedikit pun bisa ku hapus. Malah, kini teringat olehku awal perjumpaan kami. Ya, tadi sudah ku kisahkan. Klise sekali seperti di sinetron-sinetron. Aku dan beberapa sahabatku sedang terbahak-bahak atas lelucon bodoh kami yang tak ada habisnya. Dia sedang duduk di pojok (tempat yang kini kutempati), mengerjakan sesuatu yang serius dan merasa terganggu oleh tawa kami. Ia kemudian menghampiri kami dan berkata dengan judesnya.
         “Eh, kafe ini punya bokap loe ya?!”
         Kami pun kaget. Ia kembali ketempatnya dan kami masih tenggelam dalam keterkejutan. Namun, entah mengapa, perihal tadi membuatku menjadi tertarik ada sosoknya dan kuperhatikan dirinya dalam-dalam. Akhirnya, kuberanikan diri untuk menghampirinya, berbasa-basi dengan kata maaf kepadanya. Ia mengangguk. Kemudian, aku membayar pesanan miliknya. Ia pun berterima kasih kepadaku. Kali ini, aku yang mengangguk. Lalu, kuatanyakan nama dan nomor handphone-nya. Tak di sangka, ia mau memberikannya. Sejak saat itulah, aku dan dia menjadi sebuah cerita yang mungkin, baginya merupakan sebuah pertemanan. Dan, selalu saja dalam pertemuan kami, atau sekedar mendengarkan suaranya lewat handphone, sudah membuatku jatuh cinta kepadanya.
         Dan malam ini, kafe ini akan menjadi saksi bisu tentang kisahku selanjutnya. Entah terhenti atau berlanjut.

20.45
         Tersisa 15 menit lagi. Aku tak mengerti harus bagaimana lagi. Sahabatku sudah mematikan laptopnya dan mencoba menenangkanku. Aku hanya bisa mengangguk walau sebenarnya aku tak bisa. Terbayang saat-saat bersama dirinya, sosok yang kunanti. Ekspresinya, waktu kami bersama, dan lainnya. Tidakkah diriku berada di dalam hatinya meskipun hanya dalam porsi kecil? Tidakkah kedekatan itu mengenang di dirinya, yang akan mengantarkannya melangkah ketempatku berada?
         Aku tak mengerti. Hanya bisa menanti dan menanti.

20.50
         Kulihat keambang pintu, dan ... hai! Itulah dia, seperti yang kubayangkan. Ia memakai kaos putih dengan corak pink. Bedanya hanya, ia membawa sebuah payung berwarna merah jambu. Aku, yang terbawa kebahagian, berlari menghampirinya dan reflek memeluknya dengan erat. Kuucapkan terima kasih kepadanya ia mengangguk dengan senyum manis di wajahnya. Ku pandangi ia lama, seakan tak percaya. Tak kuhiraukan puluhan pasang mata yang tertuju pada kami.
         “Aku sayang kamu,” ujarnya.
         “Aku juga sayang kamu,” balasku.
         Ia kembali tersenyum. Begitu pula diriku. Lalu, ku kecup keningnya. Betul-betul indah. Betul-betul bahagia. Betul-betul...
         Kadang, batas antara imajinasi dan kenyataan berbeda sangat tipis. Kadang, imajinasi seakan-akan berwujud kenyataan, meraibkan kenyataan yang sebenar-benarnya. Itulah yang ku alami barusan. Akal sehatku tak lagi bisa menerima yang nyata. Bergantilah imajinasi yang menguasai. Beruntung, sahabatku menepuk pundakku dengan kekhawatiran yang tersimpan di kedua matanya.
         Nyatanya, ia belum datang juga.
         Nyatanya, aku masih menunggu.
         Inilah kenyataannya.

20.55
         Hujan semakin deras dan aku tengah di landa putus asa yang teramat sangat.

20.57
        Kugenggam mawar putih begitu erat hingga tak ku sadari durinya melukai jemariku.

20.58
         Aku melempar pandangan pada seluruh penjuru kafe beserta isinya. Dinding, meja, kursi, lampu dan berbagai macam lagi. Nampaknya, setelah menjadi saksi bisu bagi hadirnya rasa cinta dalam diriku, mereka juga menjadi saksi tentang pahitnya rasa itu.

20.59
         Hujan bukan hanya di luar tetapi juga di dalam diri. Luka bukan hanya di tangan namun juga di dalam hati. Beberapa detik lagi...
         Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan, berharap dengan sisa pengharapan. Bila kubuka, ia telah di hadapan. Dan ...

21.00
         Aku melangkah ke ambang pintu. Sahabatku tak mencegahku. Ia mengerti. Mawar putih kugenggam di tangan.
       Selanjutnya aku keluar menerobos rinai hujan.  Setitik air mata hanyut dalam hujan. Sebuah perasaan pun kini hanyut dalam hujan. Aku... hanyut dalam hujan.
     Seseorang menepuk pundakku dan meneduhkanku dengan payung putihnya. Sahabatku, ternyata menyusulku.
         Ia tersenyum. Matanya menyeratkan “jangan bersedih, aku berada di sampingmu. “Hampir terlupa olehku akan arti seorang sahabat,yang hatinya seputih payung di atas kepalaku, yang seputih mawar putih di tanganku. Aku mengangguk. Kami berjalan meninggalkan kafe yang kali ini menjadi sebuah saksi bisu hilangnya sebuah pengharapan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar